WIGANDI, PENARI PUTRA TARI SUNDA PRA & PASCA KEMERDEKAAN Pusbitari Talk. Host : Endang Caturwati.

Endang CaturwatiAbout 6 min readApr 2, 2025Watch original
THE SUMMARYAI-generated

Key Concepts

Tari Sunda, Ibing keurseus, koreografi, tari wayang, tari topeng, tari klasik, wirahmasari, DPK (Dewan Pertimbangan Kebudayaan), BPKI (Badan Pendidikan Kesenian Indonesia), Tayub, Ramayana, topeng Cirebon, Gamelan, Ulinan.

Belajar Tari Sunda Pra dan Pasca Kemerdekaan: Pengalaman Pak Wigandi

Awal Mula Belajar Tari (1941-1942)

  • Pak Wigandi mulai belajar tari pada tahun 1941-1942 di Pendopo Kelurahan di bawah bimbingan Pak Rubama (adik dari Pak Rubama, menantu Raden Sambas Wirakusumah).
  • Pembelajaran dimulai dengan "tarakan" atau tari dasar, bukan tari yang sudah jadi seperti tari keurseus. Fokus pada merekam gerak dan berbagai macam gerakan dasar.
  • Saat itu, Pak Wigandi bersekolah di sekolah setara SMP (MULO pada zaman Belanda).
  • Ayah Pak Wigandi adalah pegawai negeri di radio pusat, sehingga ia termasuk golongan yang bisa bersekolah di sekolah Belanda.

Belajar Tari di DPK (Dewan Pertimbangan Kebudayaan)

  • Setelah kembali dari Jakarta pada tahun 1949, Pak Wigandi diajak Pak Rubama untuk belajar tari di DPK.
  • Di DPK, Pak Wigandi belajar berbagai jenis tari dari guru yang berbeda:
    • Pak Rubama: Tari keurseus.
    • Raden Tjetje Somantri: Tari wayang.
    • Ibu Ami: Tari topeng.
    • Maman Sumantri (Riatmaja): Tari keputrian (Purwa).
  • Pak Wigandi belajar Tari Jakarsa dan Baladewa dari Tari wayang Pak Cece Somantri. Tari Jakarsa kemudian dikembangkan menjadi Tari Anjasmara.
  • Ibu Ami mengajarkan Tari Topeng Klana dan Ponggawa. Tari Panji dan Pamindo tidak terlalu populer, bahkan Pamindo diubah menjadi tari pria (Tari Samba).
  • Pak Cece Sumantri juga mengajarkan tari Ponggawa Jawa, namun tidak berkembang karena perbedaan filosofi antara tari Jawa dan Sunda (misalnya, mengangkat kaki ke samping dianggap tidak sopan dalam tari Jawa).
  • Pak Wigandi tidak ikut belajar tari Bali, namun temannya, Pak Ahmad, belajar tari Bali.
  • Ibu Saudah (tembang Sunda) memberikan pelajaran balet di DPK pada tahun 1950-an. Muridnya adalah Farhan dan Lukman Tanda ke Burki.
  • Pak Oman Suganda (dalang) memberikan pelajaran gamelan.
  • Pak Memet memberikan pelajaran pencak silat (ulinan, bukan untuk kembang tapi untuk beladiri).

Pertunjukan dan Misi Kebudayaan

  • Pak Wigandi pernah membawa pertunjukan di Istana Bogor (1953) dengan menampilkan Ibing keurseus.
  • Pak Wigandi mengikuti misi kebudayaan ke Yogyakarta (1952 dan 1955) bersama rombongan Wirahmasari.
  • Menampilkan Tari Jakarsa dan Baladewa, serta tari putri (Dewi Serang).
  • Pertunjukan di Yogyakarta diadakan di pendopo kewadanaan di jalan Rio Buruk.
  • Pernah tampil di Taman Ismail Marzuki dan Taman Ria (Varia) di Jakarta.

Wirahmasari dan BPKI

  • Setelah DPK, Pak Wigandi juga ikut grup Wirahmasari dan BPKI.
  • Ketua BPKI pertama adalah Pak Maman Suryatmaja.
  • Wirahmasari pindah ke Jalan Nias, kemudian ke SGB Jalan Dewi Sartika (sekarang SMP Negeri 10).

Ibing Topeng Kuncaran

  • Pak Wigandi ikut belajar di Padepokan Kuncaran, belajar Ibing Anjasmara.
  • Ibing Kuncaran dikembangkan oleh Pak Koncer Loncat (dalang wayang golek).
  • Pak Koncer Loncat menikah dengan adiknya Pak Koncer Marriott (Cirebon) dan kemudian dengan Nyi Raden Movie (Cirebon).
  • Pak Koncer mengembangkan karyanya ke berbagai kabupaten.
  • Di Padepokan Pasura Binangun, Ibing Anjasmara diajarkan oleh Pak Cece Somantri (tidak menggunakan topeng).
  • Ibing Topeng Kuncaran yang termashur di Pasura Binangun adalah ticketing.
  • Ibu Tuti (penari tua) tinggal di Jalan Pungkur. Ayahnya, Pak Ibrahim, bekerja di PT. JIC.

Tayub dan Perkembangannya

  • Pak Wigandi mendapat banyak informasi mengenai Tayub dari Pak Anwar Adiwilaga (ketua umum Ardi Bandung).
  • Pak Anwar Adiwilaga adalah ahli Tayub.
  • Tayub sudah ada sebelum tari keurseus.
  • Pak Anwar Adiwilaga mengatakan bahwa Tayuban adalah "tari langenan" (kepuasan hati) tanpa batasan waktu.
  • Penari Tayub sering membawa sinden sendiri.

DPK (Dewan Pertimbangan Kebudayaan)

  • DPK didirikan oleh Mr. Abdi Raja.
  • Ketua pertama DPK adalah Profesor Soemardja (Rektor ITB pertama).
  • Profesor Soemardja mengundurkan diri dan digantikan oleh Profesor Dr. Edi Karta Subarna Brata.
  • Sebelum Indonesia merdeka, DPK didanai oleh jabatan sosial Jawa.
  • Setelah Indonesia merdeka, DPK mencari dana sendiri karena pemerintah tidak membiayai.

Tari Putri

  • Pada awalnya, murid tari putri sedikit dibandingkan dengan tari keurseus atau wayang.
  • Tari putri dianggap sama dengan tari lengkepan yang dikreasi menjadi dilingkari.
  • Pak Maman Sumantri terlalu banyak terpengaruh oleh tari Jawa dalam menciptakan tari putri.
  • Setelah Pak Cece Somantri pindah ke BPKI, Pak Wigandi juga ikut belajar di BPKI.
  • Di BPKI, Pak Wigandi juga mempelajari tembang Sunda dari Nyi Raden Mentip.
  • BPKI pertama kali diadakan di DPK, kemudian pindah ke Jalan Naripan 12.

Tari Balet

  • Selain tari Sunda, gadis-gadis juga belajar tari balet.
  • Pada tahun 1954, Pak Wigandi menjadi murid Cina Melon.
  • Tanda ke Burki menjadi murid setelah tahun 1960-an.
  • Tanda ke Burki dibawa oleh ayahnya ke negeri Belanda.

Kanjeng Sunarya

  • Pak Wigandi tidak ikut latihan di DPK saat Kanjeng Sunarya memakai tempat latihan di DPK.
  • Kanjeng Sunarya memiliki grup tersendiri.
  • Pak Wigandi membantu menata panggung saat Kanjeng Sunarya memantaskan Lutung Kasarung.

Festival Ramayana

  • Festival Ramayana tingkat nasional diadakan di Prambanan (1970-an).
  • Pak Maman Suryatmaja menjadi koreografer dan Pak Wigandi menjadi asistennya.
  • Sayangnya, pertunjukan batal karena hujan lebat.
  • Festival Ramayana internasional diadakan di Pandaan, Jawa Timur.
  • Menampilkan tari dari awal cerita Ramayana hingga Rahwana meninggal (22 babak).
  • Pertunjukan berlangsung sekitar 2 jam 40 menit.
  • Pak Wigandi mengalami kesulitan karena penari topeng Cirebon tidak mampu melaksanakan gerakan selain gerakan yang biasa mereka lakukan.
  • Akhirnya, hanya satu orang (Sudjana) yang berhasil menjadi Hanoman.
  • Kostum dibuat oleh Pak Endang dan asistennya di Wisma PGRI.
  • Kontingen Jawa Barat terdiri dari 140 orang (terbanyak).
  • Kontingen dari luar negeri (India, Birma, Nepal, Sri Lanka) tidak menggunakan topeng.
  • SK untuk acara ini dikeluarkan oleh Presiden dan Menteri Pendidikan.
  • Persiapan dan perjuangan sangat luar biasa, namun para penari hanya menerima Rp8.000 (seharusnya Rp200.000).
  • Pak Wigandi berperan sebagai Rahwana yang jatuh cinta.

Tari Putri di Wirahmasari Pusat

  • Pada tahun 1941-1942, tidak ada tari putri yang diajarkan di Wirahmasari pusat.
  • Tari putri mulai menyebar ketika Pak Cece Somantri menciptakan tari putri.
  • Konseptor tari putri adalah Pak Omay.
  • Pak Cece Somantri kurang menguasai gamelan pengiring.

Lagu Pengiring Tari

  • Lagu Asmarandana (Anjasmara) tidak berkembang di BPKI.
  • Di DPK, lagu-lagu "wileut" (tinggi) dipelajari.
  • Lagu untuk Anjasmara adalah "Rumiang".

Tayub dan Minuman Keras

  • Pak Wigandi mengatakan bahwa Tayub di Kabupaten Bandung tidak identik dengan minuman keras.
  • Di arena utama Tayub, minuman keras sangat dilarang.
  • Fungsi Ronggeng adalah sebagai "ginde" (penghibur).
  • Pak Anwar Adiwilaga mengatakan bahwa Tayuban adalah "tari langenan" (kepuasan hati) tanpa batasan waktu.
  • Penari Tayub sering membawa sinden sendiri.
  • Tidak ada batasan dalam menari Tayub, sehingga banyak protes dari penari yang tidak kebagian menari.

Ibing Jangkung Ilo

  • Sebelum ada tari keurseus, mereka menciptakan tari-tari seperti Jangkung Ilo.
  • Pak Omay memberikan pelajaran Jangkung Ilo (20 macam).
  • Contoh Jangkung Ilo yang paling baik adalah "Sorong".
  • Ada empat karakter dalam tari: halus, satria, ponggawa, dan kalana.
  • Setiap karakter memiliki aturan tersendiri dalam gerakan tangan.

Pesan untuk Generasi Muda

  • Jangan lupakan tradisi dan jangan terpaku pada hal-hal yang membeku.
  • Dalam klasik, ada pakem (aturan) yang harus dipahami.
  • Kebanyakan "ukal" (gerakan tangan) hanya satu warna, padahal ada empat warna.
  • Dalam tari ponggawa atau kalana, ada "kepungan" (gerakan tangan) yang harus diperhatikan.

Kendang dan Pengiring

  • Tukang kendang (pemain kendang) harus lembut dan mengikuti penari.
  • Parafi adalah tukang kendang yang terkenal.

Synthesis/Conclusion

Wawancara dengan Pak Wigandi Wangsaatmaja memberikan wawasan mendalam tentang perkembangan tari Sunda pra dan pasca kemerdekaan. Beliau berbagi pengalaman belajar dari berbagai guru, jenis tari yang dipelajari, pertunjukan yang diikuti, dan tantangan yang dihadapi. Pak Wigandi juga menjelaskan perbedaan filosofi antara tari Sunda dan Jawa, serta pentingnya memahami pakem dalam tari klasik. Pesan beliau untuk generasi muda adalah agar tidak melupakan tradisi dan terus menggali kekayaan seni Sunda.

AI summaries can miss context or contain errors. Check important details against the original video.

Go a little deeper.

Have a question about this video? Load its transcript to open the video chat.