3712 ORANG MASUK ISLAM SEKALIGUS BERSAMA USTADZ SABUN MANDI - Ustadz Fadlan Garamatan

ISLAM FUNAbout 5 min readApr 7, 2025Watch original
THE SUMMARYAI-generated

Dakwah di Wamena

Key Concepts: Dakwah (Islamic proselytizing), siasah (strategy/politics), tadabbur (reflection/contemplation), cultural sensitivity, religious conversion, community development, strategic communication.

Perjalanan Dakwah ke Wamena

Awalnya, tim dakwah berencana berjalan kaki dari Jayapura ke Wamena, sebuah perjalanan yang diperkirakan memakan waktu 3 bulan. Terinspirasi oleh perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah, mereka berjumlah 20 orang. Namun, setelah satu bulan, 19 anggota tim kelelahan dan khawatir akan keselamatan mereka. Mereka memutuskan untuk kembali ke Jayapura.

Untuk mengatasi masalah transportasi, pemimpin dakwah menggunakan siasah. Mereka mengganti nama dan identitas anggota tim dengan nama-nama Kristen (contoh: Abidin menjadi Markus, Zainuddin menjadi Wilhelmus) dan mengosongkan kolom agama di KTP. Dengan identitas baru ini, mereka berhasil membeli tiket pesawat misionaris ke Wamena. Mereka juga menyiapkan modal dakwah berupa 7 karton sabun mandi, 7 karton sampo, 7 karton odol, 7 karton sikat gigi, dan 7 karung pakaian.

Kondisi Masyarakat Wamena

Setibanya di Wamena, tim dakwah disambut oleh saudara-saudara mereka yang telanjang. Masyarakat pedalaman tidak memiliki pakaian yang layak. Gereja dan misionaris mengklaim bahwa ketelanjangan adalah bagian dari budaya mereka. Selain itu, masyarakat dilarang mandi dengan air bersih dan hanya diperbolehkan melumuri tubuh dengan minyak lemak babi, menyebabkan bau badan yang tidak sedap. Minuman keras dari Australia masuk melalui Port Moresby dan diberikan kepada masyarakat, menyebabkan mereka mabuk dan tidur dengan babi di kandang. Ibu-ibu melahirkan seperti binatang di bawah pohon, memotong ari-ari bayi dengan batu tajam, dan hanya menyusui bayi dengan air susu sebelah kiri, sementara air susu sebelah kanan dipersembahkan untuk anak babi. Melihat kondisi ini, tim dakwah merasa berdosa dan bertekad untuk berdakwah dengan Islam.

Metode Dakwah: Hikmah dan Arif Bijaksana

Tim dakwah mengacu pada Surah An-Nahl ayat 125 yang menekankan pentingnya berdakwah dengan hikmah (kebijaksanaan) dan arif bijaksana (cara yang bijak). Mereka memulai dengan mendekati kepala suku.

Minggu kedua, hari pertama, mereka mengajak kepala suku mandi di sungai. Mereka bersama-sama masuk ke sungai dan menggunakan sabun mandi. Kepala suku mengikuti gerakan mereka. Setelah itu, mereka mengganti sabun dengan sampo. Ketika kepala suku mencium harum sampo, dia tidak mau membilas rambutnya dengan air. Dia mandi selama 6 hari berturut-turut tanpa membilas rambutnya.

Di hari keenam, kepala suku akhirnya mandi dan membilas rambutnya. Setelah itu, dia tidur nyenyak dari jam 3 sore sampai jam 6 pagi. Keesokan harinya, dia mengatakan bahwa mandi yang benar telah diajarkan oleh Tuhan dan dia belum pernah tidur senyenyak itu sebelumnya. Dia kemudian mulai berkampanye kepada 28 titik adat.

Konversi Massal dan Pemahaman Islam

Keesokan paginya, 3.712 orang laki-laki, perempuan, tua, muda, besar, kecil berkumpul di lapangan untuk mengikuti pelajaran mandi menggunakan sabun mandi. Pelajaran mandi berlangsung dari jam 6 pagi sampai jam 12 siang.

Saat waktu salat zuhur tiba, tim dakwah menghentikan pelajaran mandi dan naik ke panggung yang telah mereka bangun sebagai masjid dan musala. Mereka salat zuhur di atas panggung. 3.712 orang itu memperhatikan gerakan-gerakan salat zuhur yang mereka lakukan.

Setelah salat, kepala suku naik ke atas panggung dan bertanya tentang makna gerakan-gerakan salat. Pemimpin dakwah menjelaskan makna berdiri dan mengangkat tangan (menyerahkan diri kepada Allah), membungkuk (mengingat fasilitas dari Allah), tunduk mencium papan (meminta ampun atas dosa), dan melihat ke kanan dan kiri (mencari orang yang perlu dibantu dan diajak mengenal Allah).

Setelah mendengar penjelasan tersebut, kepala suku menyatakan bahwa agama Islam adalah agama yang benar. Enam kepala suku naik ke atas panggung dan mengadakan rapat adat. Hasil rapat adat adalah bahwa semua orang di lapangan harus mengikuti agama yang diajarkan oleh tim dakwah.

3.712 orang masuk Islam tanpa paksaan. Mereka dengan mudah mengucapkan dua kalimat syahadat. Tim dakwah kemudian membimbing mereka agar menjadi hamba-hamba Allah.

Tindak Lanjut Dakwah

Setelah itu, tim dakwah mengganti nama-nama mereka dengan nama-nama Islami (contoh: Abraham menjadi Ibrahim, Yohanis menjadi Zainuddin). Mereka juga melakukan hitanan massal mulai dari umur 7 bulan sampai umur 63 tahun.

Mereka dibantu oleh Dr. Mulia Tarmizi, komandan lantambal angkatan laut di Jayapura. Dr. Mulia Tarmizi menulis surat agar pemimpin dakwah menghadap Presiden Soeharto di Jakarta.

Pertemuan dengan Presiden Soeharto

Tim dakwah membawa kepala-kepala suku bertemu dengan Presiden Soeharto. Presiden Soeharto menerima mereka di rumahnya di Cendana. Setelah diberikan oleh-oleh, Pak Harto meminta kepala suku untuk konferensi pers. Kepala suku berbicara dalam Bahasa Wamena dan mengkritik pembangunan yang hanya terfokus di Makassar dan Jakarta.

Pemimpin dakwah tidak menterjemahkan bahasa itu, tetapi mentadaburi makna di balik permintaan bahasa itu. Dia mengatakan bahwa kepala suku mengatakan bahwa Haji Muhammad Soeharto layak menjadi Bapak pembangunan nasional.

Dengan cara itu Pak Harto langsung menelpon menteri agama. Kepala-kepala suku yang tadi datang itu diberangkatkan Haji pada tahun itu juga. Dengan cara tadabur bahasa itu beliau menelepon Menteri Sosial. Kami dibantu 417 unit rumah layak huni. Beliau juga menyumbang 1000 karung pakaian serba baru. Beliau juga menyumbang 600 karton sampo, 600 sabun kart odol sikat gigi dan ples. Beliau menyumbang 28 masjid kepada 28 kampung yang masuk Islam dan beliau mengatakan dakwah Jakarta Wamena tidak boleh menggunakan kapal laut, tapi menggunakan kapal lapangan pesawat herkules dari Halim Perdana Kusuma.

Kesimpulan

Dakwah di Wamena berhasil mengubah kehidupan masyarakat pedalaman. Mereka yang dulunya telanjang, bau badan, bodoh, dan miskin, kini telah mengenal Allah dan Rasul-Nya. Mereka telah menjadi hamba-hamba Allah yang taat. Kisah ini menekankan pentingnya dakwah dengan hikmah dan arif bijaksana, serta pentingnya tadabbur dalam memahami kebutuhan dan aspirasi masyarakat.

Kisah ini diakhiri dengan ajakan untuk mengunjungi Wamena dan mendengar suara-suara Islam di tengah-tengah hutan.

AI summaries can miss context or contain errors. Check important details against the original video.

MAKE IT YOURS

Read. Remember. Reuse.

Free tools

Go a little deeper.

Have a question about this video? Load its transcript to open the video chat.